Zuraida Hanum divonis hukuman mati karena terbukti menjadi otak pembunuhan suaminya sendiri hakim Jamaluddin, Rabu (1/7/2020). Sidang vonis kasus pembunuhan hakim Jamalluddin tersebut digelar secara virtual di Ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara. Dalam kasus tersebut Zuraida Hanum (41) istri hakim Jamaluddin, M Jefri Pratama (42), dan M Reza Fahlevi (29) duduk sebagai terdakwa.

Kemudian, dua pelaku lainnya, M Jefri Pratama dan M Reza Fahlevi juga telah bersiap. Keduanya terlihat berwajah lesu saat menunggu jalannya sidang. Jefri dan Zuraida terlihat kompak mengenakan kemeja putih.

Sedangkan Reza terlihat mengenakan kaos berwarna merah. Hal menarik sebelum sidang dimulai persidangan, Zuraida Hanum tampak menunjukkan cincin emas di jari manisnya. Sambil memegang hidungnya, Zuraida Hanum menunjukkan cincin tersebut tepat di depan kamera.

Ketika sidang hendak di mulai, dari layar video terlihat Zuraida Hanum sudah duduk di depan monitor yang berada di Rumah Tahanan Negara (Rutan) wanita Medan. Amatan wartawan, terdengar pengunjung menyoraki Zuraida Hanum dengan mengatakan wajah Zuraida Hanum tampak sembab. "Sembab mukanya," kata pengunjung.

Mendengarkan celotehan tersebut, lantas Zuraida Hanum menutupi wajahnya dengan masker berwarna biru. Selanjutnya, Zuraida Hanum tampak menunduk saat hendak difoto wartawan. Namun saat wartawan tidak fokus memfoto, Zuraida Hanum tampak tegak melihat monitor.

Mengenai cincin yang digunakan di jari manis Zuraida Hanum, anak tirinya, Kenny Akbari menyebutkan bahwa cincin tersebut bukan cincin pernikahan dengan mendiang ayahnya hakim Jamaluddin. "Bukan itu cincinnya bang, saya juga enggak tahu itu cincin dengan siapa," katanya. Kenny menyebutkan bahwa cincin pernikahan Zuraida dengan ayahnya saat ini dipegang oleh Zuraida.

Saat mendengarkan pembacaan putusan, Zuraida Hanum menangis terisak isak. Tangis Zuraida semakin menjadi jadi saat Majelis Hakim membacakan kesaksian bahwa Shakira Rijatunisa (Putri Zuraida Hanum) sempat akan dicabuli korban, Jamaluddin. Ia terlihat menangis mendengar keterangan tersebut, bahkan suara isak tangisnya terdengar ke dalam ruang sidang melalui video conference.

Hingga akhirnya hakim membacakan kesimpulannya dengan menjatuhkan hukuman mati kepada Zuraida Hanum. "Mengadili menyatakan terdakwa Zuraida Hanum terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuh berencana dan terbukti dengan dakwaan primer serta menjatuhkan pidana dengan pidana mati," kata Hakim Erintuah Damanik membacakan putusan. Sementara, untuk kedua terdakwa lainnya, Majelis Hakim memberikan hukuman yang lebih ringan yaitu penjara seumur hidup dan 20 tahun penjara.

"Menjatuhkan pidana penjara seumur hidup terhadap terdakwa M Jefri Pratama karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana. Sementara untuk terdakwa M Reza Fahlevi dengan pidana penjara 20 tahun," lanjut Erintuah. Menurut Majelis hakim, ketiga terdakwa dinyatakan bersalah telah melanggar pasal 340 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 jo 64 ayat 1 KUHPidana. Yang memberatkan terdakwa telah menghilangkan nyawa korban di tempat tidurnya sendiri yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman.

Kemudian terdakwa pun terbukti melakukan pembunuhan berencana dan bersama sama. "Melainkan yang meringankan, ketiganya tidak terdapat hal yang bisa meringankan," kata hakim. Penasihat hukum Zuraida Hanum, Onan Purba, menyatakan sudah diskusi dengan kliennya dan menyatakan banding.

Menurut dia, pertimbangan Majelis Hakim melanggar hak asasi manusia (HAM). "Saya menilai putusan majelis hakim ini tidak tepat dalam mengambil sikap, menurut saya hakim bersikap melanggar hak asasi manusia," ujar Onan. Dikatakan Onan, majelis hakim tidak mempertimbangkan bahwa Zuraida Hanum adalah seorang ibu dari anak yang masih kecil.

Anak berinisial K tersebut, sambung dia, masih berumur 7 tahun. "Anaknya itu masih kecil kali, bagaimana bisa dia mendapatkan kasih sayang orang tua kalau orang tuanya divonis mati," ujarnya. Dikatakannya, putusan hukum seharusnya tidak berdampak hukum lainnya.

"Jangan sampai, karena putusan hukum menjadi akibat hukum lainnya," katanya. Ia menyebutkan masalah itu wewenang Pengadilan Agama dan tidak ada sangkut pautnya dengan putusan di Pengadilan Negeri Medan. "Iya ada, tapi di situ tidak ada hubungannya antara putusan PN Medan," ujarnya.

Dijelaskannya, di Pengadilan Agama hanyalah memperebutkan hak wali anak. "Itukan hanya untuk hak wali anak, bukan pidana, jadi kami katakan ini tidak ada hubungan dan pengaruhnya di Pengadilan Agama," katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *