Cuitan seorang warganet yang menyebut tidak memberi air susu ibu (ASI) adalah pilihan yang harus dihargai, menjadi viral di media sosial. Diketahui, cuitan tersebut menjadi ramai diperbincangkan setelah diunggah akun Instagram @lets.talkandenjoy padaSabtu (4/7/2020). Dalam cuitannya, akun Twitter tersebut mempertanyakan soal peraturan bagi perempuan yang wajib memberi ASI pada anaknya.

"Aturan dari mana ibu harus menyusui anaknya? Menyusui itu pilihan perempuan yang sudah jadi ibu untuk anaknya. Tidak menyusui juga pilihan yang harus dihargai. Woman's body, woman's choice," tulisnya. Aktivis Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK HAM) Solo, Fitri Haryani, memberikan pendapatnya terhadap cuitan tersebut.

Fitri menyebut, perempuan yang tidak memberi ASI pada anaknya memang pilihan yang harus dihargai. Ia pun juga tak setuju jika ada ibu yang tak memberi ASI pada anaknya dianggap telah menyalahi aturan. "Selama ini menurut banyak orang, menyusui dianggap sebagai bagian kodrat perempuan."

"Kemudian disaat itu tidak dilakukan maka dianggap sesuatu yang menyalahi aturan," lanjutnya. Namun, Fitri menegaskan, memberi ASI bagi sang anak merupakan hak dari perempuan tersebut. Ia pun menilai, ada kondisi di balik pilihan seorang perempuan tidak memberi ASI bagi anaknya.

"Menyusui sebenarnya bagian dari hak perempuan atau peran gender." "Dilihat dulu pertimbangannya kenapa perempuan tidak mau menyusui, apakah ada kondisi kesehatan yang kemudian dia tidak dapat menyusui." "Atau pertimbangan yang lain yang kemudian kita tidak bisa langsung menjustifikasi," terang dia.

Dirinya lalu mengungkapkan, hak bagi anak untuk menerima ASI memang sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan. "Memang ada hak anak kalau berbicara soal kebutuhan ASI, dan itu sudah dicanangkan juga oleh Kemenkes tentang peraturan pemberian ASI eksklusif," ungkapnya. Namun, perempuan juga mempunyai hak untuk membuat pilihan atas dirinya.

"Banyak paham yang mempengaruhi, salah satunya feminis liberal, yang kemudian melihat akan otoritas tubuh merupakan hak mutlak perempuan itu sendiri dengan bebas dan merdeka," jelas Fitri. Mengenai pro dan kontra atas cuitan tersebut, dirinya mengungkapkan karena adanya pemahaman yang tak sama. Iapun akan menghargai pendapat tersebut, meski tetap akan memilih memberi ASI pada sang anak.

"Kalau saya secara pribadi, menghargai perempuan tersebut." "Tetapi pilihan saya sendiri akan menyusui dengan ASI eksklusif, dikarenakan tidak ada soal gangguan kesehatan yang saya alami, maupun pertimbangan nilai ekonomis, maupun kebutuhan nutrisi dan gizi anak," ungkapnya. Fitri pun menyinggung soal Convention on the Elimination of All Forms of Discrimintion Against Women atau Konvensi CEDAW.

"Dalam konvensi CEDAW, hak perempuan dalam kesehatan terutama kesehatan reproduksi itu sebenarnya juga sudah diatur." "Soal pilihan melahirkan, seksualitas, sampai hak dalam perkawinan itupun sudah diatur di dalamnya," jelas dia. Ia menegaskan, menyusui merupakan hak perempuan.

Sehingga, akan dilakukan atau tidak oleh seorang ibu, itu menjadi pilihan yang sudah diambil. "Saya sih bilang menyusui itu hak, jadi mau dipakai atau tidak itu pilihan." "Menyusui itu bukan kewajiban yang kemudian kalau urusan wajib itu pilihannya satu, harus bertanggung jawab untuk melakukan," tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *