Publik dihebohkan dengan kabar klaster baru Covid 19 di Yogyakarta. Penjual soto lamongan di kawasan XT Square, Yogyakarta terkonfirmasi positif Covid 19. Tracing pun langsung dilakukan.

Ternyata 10 orang yang berkontak dengan penjual soto ini juga dinyatakan terinfeksi corona. Warung soto Lamongan tersebut berada di kawasan XT Square, Yogyakarta. Lokasi warung berada di pinggir jalan.

"Kami menemukan penjual soto terindikasi positif, mereka berjualan di XT Square," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta yang juga ketua harian gugus tugas Covid 19 Kota Yogyakarta Heroe Purwadi Rabu (26/8/2020). "Lokasinya memang berada di luar (XT Square) memang berada di pinggir jalan, ini yang tidak diketahui sejauh mana paparannya, dari soto lamongan sudah melakukan tracing 12 orang," PemerintahKota Yogyakartamembenarkan bahwa keluarga dan karyawan di warung soto lamongan di sekitarXT SquareKota Yogyakarta positif terinfeksiCovid 19.

Wakil Wali KotaYogyakarta Heroe Poerwadi menjelaskan, hal itu terungkap setelah Tim Gugus Tugas Covid 19 melakukan tes swab terhadap 19 orang. Namun, menurut Heroe, ada satu anggota keluarga yang belum jalani tes. "Pada hari ini, hasil tracing terhadap kasus Soto Lamongan akhirnya ditemukan 10 kasus positif.

Mereka adalah keluarga dan karyawan Soto Lamongan. Oleh karena itu, Soto Lamongan sudah menjadi klaster baru di Kota Yogyakarta," kata Heroe melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2020). Heroe mengatakan, bagi para pelanggan warung tersebut diharap memeriksakan kesehatannya dan melakukan isolasi mandiri.

Hal itu dilakukan agar mengantisipasi merebaknya viruscorona. "Kepada para pembeli soto Lamongan pada bulan Agustus untuk segera periksa di layanan kesehatan terdekat, agar blocking kasus bisa dilakukan dan tidak menyebar. Melakukan isolasi mandiri. Selalu pakai masker, tetap berada di rumah, dan tidak keluar dari rumah, serta membatasi sentuhan barang," paparnya.

Sementara itu, Heroe memastikan, lokasi warung soto lamongan berada di luar XT Square, tepatnya di pinggir jalan. Hal itu membuat petugas kesulitan untuk memantau paparan dari virus tersebut. Seperti diketahui, kasus terpaparnya penjual soto Lamongan tersebut menjadi klaster baru di Kota Yogyakarta.

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman pun mengingatkan agar Indonesia terus melakukan penguatan kuantitas dan kualitas testing virus corona. Sebab, menurut dia, Indonesia saat ini telah memasuki fase awal kritis akibat Covid 19. "Indonesia ini sudah memasuki fase kritis awal yang diperkirakan mengalami puncak di awal Oktober 2020, khususnya Jawa. Ini bisa berlangsung lama, bisa sampai akhir tahun," kata Dicky kepada Kompas.com, Rabu (26/8/2020).

Dicky menyebutkan, ada beberapa indikator yang mendasari bahwa Indonesia kini sudah memasuki fase kritis pandemi virus corona. Pertama, jumlah kasus baru harian yang semakin tinggi. Hingga saat ini, menurut Dicky, hanya DKI Jakarta yang bisa dinilai secara valid karena memiliki cakupan tes memadai dan memenuhi target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu satu tes per seribu per minggu. "Untuk melihat secara valid berapa kasus baru harian, tentu harus diakukan dengan testing yang optimal, baik kuantitas maupun kualitas," jelas dia.

"Bila ini tak bisa kita nilai, itu bukan sesuatu yang aman aman saja. Malah sebaliknya, kita berada dalam posisi yang rawan karena kita tidak bisa menilai situasi sesungguhya di wilayah tersebut," lanjut Dicky. Indikator kedua adalahinfection rateyang juga dipengaruhi oleh kapasitas testing. Dicky menyebutinfection ratetersebut bisa menilai seberapa parah virus corona telah menyebar. Ketiga,positivity ratebaik pada level nasional maupun daerah yang berada di atas rata rata global atau indikator WHO, yaitu di bawah 5 persen.

"Rata rata kita di atas 10 persen, belum pernah turun di bawah 10 persen. Tentu ini situasinya rawan," kata Dicky. Indikator terakhir untuk menilai bahwa Indonesia berada pada fase rawan adalah persentase penggunaan tempat tidur rumah sakit yang menunjukkan peningkatan. Menurut dia, setiap daerah harus melakukan evaluasi terhadap indikator indikator tersebut untuk melihat sejauh mana tingkat keseriusan kondisi Covid 19.

Senada dengan Dicky, Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan, sejak awal wabah Covid 19 terjadi di Indonesia kondisinya sudah kritis. Dia menyayangkan kondisi itu tidak dianggap sebagai situasi kritis oleh pemerintah. "Dari dulu kan Covid 19 di Indonesia sudah kritis. Tapi tak pernah dianggap kritis. Itu problem besar," ujar Pandu saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (28/8/2020).

Alih alih menggunakan tenaga besar kementerian dan lembaga yang sudah ada, pemerintah malah membentuk satuan khusus lain yaitu Satuan Tugas (dulu bernama Gugus Tugas). "Semestinya pandemi Covid 19 ditangani negara, artinya oleh Presiden dan kementerian serta lembaga yang sudah ada," lanjut Pandu. Menurut Pandu, baik Gugus Tugas maupun Satuan Tugas sama sama bersifat ad hoc.

Dengan begitu keduanya tak punya kekuatan hukum dan tak bisa membuat regulasi sebagaimana kementerian atau lembaga negara yang sudah ada. Kondisi ini, kata Pandu, berimplikasi dari pengambilan kebijakan strategis selanjutnya dalam penanganan Covid 19. Salah satunya adalah pelaksanaan testing atau pemeriksaan terhadap masyarakat yang terpapar Covid 19, individu suspek dan lainnya.

"Testing ini sebagian besar di Jakarta. Di daerah kapasitas testing ini masih jauh dari yang diharapkan. Jakarta pun bisa begitu sebab ada peran dari swasta kan," ungkap Pandu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *