Mantan pebulu tangkis Denmark, Mathias Boe menceritakan sebuah titik dimana ia memiliki karir terbaik semasa masih aktif bermain. Tercatat kurang lebih 20 tahun berkarir di dunia tepok bulu, Mathias Boe akhirnya memutuskan gantung raket sekitar sebulan yang lalu. Beberapa gelar bergengsi telah berhasil diraih oleh Mathias Boe selama berkecimpung di dunia bulu tangkis.

Pebulu tangkis yang andal bermain pada sektor ganda putra tersebut tercatat pernah meraih gelar All England sebanyak dua kali. Bersama Carsten Mogensen, ia berhasil menyegel dua gelar juara masing masing tahun 2011 dan 2015. Keduanya juga tercatat pernah meraih medali perak Olimpiade London 2012 dan Kejuaraan Dunia Guangzhou 2013.

Usut demi usut ternyata bukan perjalanan mudah bagi Mathias Boe untuk bisa meraih berbagai gelar bergengsi tersebut. Mathias Boe mengakui pernah merasa terpuruk setelah gagal berpartisipasi dalam perhelatan Olimpiade 2008 bersama Carsten Mogensen. "Tepat setelah kami dikeluarkan dari Olimpiade 2008, Carsten dan saya merasa terluka secara mental karena tidak terpilih menjadi anggota tim Denmark," ungkap Mathias Boe seperti dikutip dari laman resmi BWF .

Justru kegagalan tersebut mampu dimanfaatkan oleh Mathias Boe dan rekan mainnya untuk bangkit sekaligus menorehkan prestasi di tahun tahun berikutnya. Salah satu buktinya ketika pasangan asal Denmark tersebut memenangi ajang Taiwan Open tahun tersebut. "Kami berhasil memenangkan gelar Taiwan Open dengan mengalahkan Tony Gunawan dan Candra Wijaya di final yang cukup menegangkan," lanjutnya.

Kejutan performa pasangan Mathias Boe/Carsten Mogensen kembali berlanjut ketika keduanya secara mengejutkan meraih gelar juara super series pertama dalam ajang Korea Open pada tahun berikutnya. "Saat itu, kami berhasil mengalahkan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae di tanah asalnya yang tak seorang pun sangka, bahkan kami pun tidak," kenang Mathias Boe. "Pada 2010, kami juga memenangkan Denmark dan Perancis terbuka, dua turnamen super series secara berturut turut," tambahnya.

Mathias Boe pun menyadari bukan perkara mudah untuk bisa mempertahankan mental juara seperti itu. Guna memenangkan gelar juara back to back yang dalam kurun waktu dua minggu saja. "Anda tentu paham betapa sulitnya mental untuk bermain satu minggu ke minggu berikutnya, anda bisa saja kecewa kecuali anda menang lagi," sambung Mathias Boe.

"Jadi sebenarnya untuk memenangkan turnamen back to back adalah salah satu hal paling sulit yang bisa anda lakukan sebagai atlet," tegasnya. "Setelah Perancis terbuka, kami menjadi nomor satu dunia, lalu kami memenangkan gelar All England pertama kami," tutup pria yang kini berusia 40 tahun tersebut. Pasangan Mathias Boe/Carsten Mogensen saat itu berhasil mengalahkan ganda putra Malaysia, Tan Boon Heong/Koo Kien Keat di final All England 2011.

Mathias Boe/Carsten Mogensen keluar sebagai juara setelah menang lewat permainan rubber game dengan skor 15 21, 21 18, dan 21 18. Salah satu momen yang diingat ketika Boe/Mogensen ketinggalan 11 16 pada set ketiga. Hingga pada akhirnya, justru keduanya berhasil membalikkan keadaan dan menyegel gelar juara All England kedua mereka.

Padahal secara rekor pertemuan, Tan Boon Heong/Koo Kien Keat seharusnya lebih diunggulkan. Pasangan Tan Boon Heong/Koo Kien Keat secara rekor pertemuan berhasil memenangkan 10 dari 15 pertemuan melawan ganda putra Denmark tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *