Hal paling penting dan kunci utama dalam menghadapi Covid 19 ini adalah bagaimana menekan kasus kasus Covid 19 dengan penerapan protokol kesehatan yang harus tetap menjadi prioritas dari seluruh level pemerintahan baik pusat maupun daerah. Demikian disampaikan Menteri Sosial RI Juliari P Batubara saat menjadi narasumber Webinar Nasional Kedua Taruna Merah Putih (TMP) bertemakan "Percepatan Jaring Pengaman Sosial Menghadapi Pandemi Covid 19", Minggu (19/7/2020) malam. Acara ini dibuka oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Selain Juliari,pembicara lainnyahadir Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lili Pintauli Suregar, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dipandu langsung Maruarar Sirait, diskusi dengan Juliari Batubara dimulai dengan pertanyaan dari Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. Dony bertanya soal kemungkinan perubahan regulasi untuk pembelian beras langsung dari petani.

Di Sumedang sendiri sudah menjalankan pembelian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pertanyaan selanjutnya, disampaikan artis ibu kota Edo Kondologit. Edo bertanya terkait dengan pemuktahiran data.

Ari kemudian menjelaskan secara lengkap. Dalam hal mengantisipasi dan menanggulang dampak sosial pandemi Covid 19, jelasnya, pemerintah pusat sudah menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang besar . Kemensos sendiri sudah menjalankan dengan benar program program Jaring Pengaman Sosial, serta dilakukan sesuai dasar hukum yang jelas. "Perluasan program PKH dari 9,2 juta KK menjadi 10 juta KK, perluasan program sembako dari 15,2 juta KK menjadi 20 juta KK, serta 9 juta KK penerima bansos Covid 19 diharapkan mencukupi kebutuhan dasar 39 juta KK warga yang pasti terdampak Covid 19," jelas Ari.

Dari sisi anggaran, sambungnya, alokasi bansos yang dikelola Kemensos RI sebagai Jaring Pengaman Sosial jumlahnya sudah cukup besar, yaitu Rp 100,6 triliun. Tentu dengan pemanfaatan yang tepat sasaran, tepat kualitas barang, cepat diterima oleh warga yang membutuhkan, transparan dan akuntabel dalam pelaksanaannya, hal ini akan mampu menyelamatkan kebutuhan dasar warga menghadapi pandemi Covid 19. "Dari sisi pengadaan barang, kita jaga ketepatan kualitas barang dari para vendor. Kemensos RI juga menyiapkan tim audit dan juga tim monitoring di lapangan, sehingga bila ada ditemukan laporan atau temuan barang yang tidak bagus maka vendor akan diperingatkan dan diminta untuk mengganti dengan barang yang berkualitas bagus," jelasnya.

Ari juga menjelaskan bahwa pelaksanaan distribusi Jaring Pengaman Sosial, khususnya bansos sudah bisa dilaksanakan dengan cepat meskipun ada kendala di awal soal data yang banyak tidak update dari daerah, tapi segera diambil terobosan oleh Mensos RI dengan dikeluarkannya Surat Dirjen PFM Kemensos RI dan Surat Edaran KPK RI untuk mempercepat perbaikan data dengan payung hukum yang jelas. "Dalam pelaksanaan Jaring Pengaman Sosial ini juga sudah dilakukan pemberdayaan UMKM dalam pengadaan. Kemensos RI mewajibkan vendor mengambil beras hanya dari dalam negeri, tidak diperbolehkan beras impor," demikian Ari. Sementara itu, Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa Pancasila mengajarkan semangat pembebasan dan keberpihakan kepada wong cilik.

Karena itu Kementerian Sosial yang dipimpin Menteri Juliari Batubara pun hadir demi memastikan negara hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya lewat bantuan sosial, namun melalui berbagai kebijakan yang mampu meningkatkan kemampuan rakyat menghadapi pandemi. "Kami percaya Pak Juliari Batubara sebagai Menteri Sosial mampu membuat langkah terobosan yang mewujudkan kehadiran negara di tengah pandemi. Meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, kami percaya Pak Ari akan mendorong kerjasama dengan para menteri lainnya agar tercipta program padat karya sehingga rakyat mendapatkan kesempatan kerja," ungkap Hasto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *