Kisah pilu dialami seorang remaja bernama Siti Aisyah. Selama 15 tahun, Siti Aisyah hanya bisa terbaring lemah di rumahnya, di Kecamatan Bawean, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kondisi tersebut rupanya telah dialami Aisyah sejak usianya empat bulan.

Sang ibu, Saelah pun mengurai cerita pilu soal kondisi Aisyah yang selama 15 tahun tak bisa melakukan aktivitas secara normal. Diakui Saelah, Aisyah lahir dengan kondisi normal. Namun saat usianya baru menginjak empat bulan, Aisyah mendadak mengalami kondisi tak terduga.

Saat diajak ke hajatan pernikahan, Aisyah mendadak pingsan. "Aisyah sakit sejak usia empat bulan saat diajak ke hajatan pernikahan," ujar ibunda Aisyah, Rabu (29/7/2020). Kala itu, Aisyah tiba tiba pingsan saat akan diberi makan.

"Padahal tidak tersedak atau apa, tiba tiba saja tidak bergerak," kata Saelah. Pasca kejadian itu, kondisi Aisyah pun semakin memprihatinkan. Aisyah hanya bisa terbaring di tempat tidur seperti orang lumpuh.

Bahkan kadang, tubuh Aisyah tiba tiba kaku seperti kayu. "Bisa juga langsung lemas tidak ada tulangnya. Kalau tidur betah bisa dari Magrib sampai pagi," imbuh Saelah. Saelah mengatakan, dengan kondisi tersebut, putrinya hanya bisa memakan makanan khusus.

Aisyah hanya diberi bubur sachet dan air putih bergula. Perut Aisyah bisa membesar dan kembung jika diberi makanan lainnya. Diakui sang ibu, cobaan semakin berat saat Siti Aisyah mengalami pengelupasan di kulit di sekujur tubuhnya.

Diceritakan sang ibu, kulit Aisyah mulai mengelupas tiga bulan lalu. "Awalnya hanya di kulit pusar. Lalu saya periksakan ke klinik terdekat, juga saya belikan salep kulit." "Sebulan kemudian bisa sembuh, tapi lalu kambuh lagi dan kulit mengelupas di semua kulitnya," imbuhnya.

Guna mengatasi kondisi Aisyah, kedua orangtuanya pernah membawa sang putri untuk menjalani perawatan medis. Namun tak berlangsung lama, pengobatan Aisyah harus terhenti karena keluarga mereka tak memiliki biaya. "Tapi karena tak ada biaya akhirnya perawatan medis dihentikan. Termasuk pemeriksaan di dokter syaraf," ujar Saelah.

Tak mau tinggal diam, Saelah pun akhirnya mencari pengobatan alternatif yakni ke dukun. Hal tersebut dilakukan Saelah lantaran merasa ada yang tak biasa dengan sakit yang dialami Aisyah. Pergi ke dukun, Saelah pun terkejut saat mendengar analisa soal penyebab Aisyah lumpuh.

"Dukun yang kami datangi hampir semua bilang Aisyah diikuti sesosok nenek tua yang rambutnya sudah putih semua. Saya juga seperti pernah melihat saat berada di kebun," kata Saelah. Lantaran kondisi ekonomi, Saelah tak bisa maksimal membawa Aisyah berobat. Apalagi, semenjak Covid 19, Saelah yang sebelumnya bekerja di pabrik tekstil kini dirumahkan.

Sedangkan suaminya Ramlan bekerja serabutan di kebun dan mencari kayu bakar. Satu bongkok kayu bakar Ramlan dihargai Rp 12.500,00. FOLLOW US :

Jauh di lubuk hati Saelah, ia selalu mendoakan putrinya sembuh dan memiliki kehidupan normal seperti anak anak lainnya. "Saya juga ingin melihat anak saya seperti orang lain. Bisa bicara, bisa berjalan dan mandiri," tutur Saelah pilu. Saelah mengaku tak berhenti berusaha untuk menyembuhkan si bungsu dari dua bersaudara itu.

Ia menjelaskan, beberapa pihak sudah memberikan bantuan sosial. "Saat ini untuk penyembuhan hanya mengandalkan uang di tabungan yang tak seberapa dan juga bantuan sosial," jelasnya. Ia pun berharap suatu saat nanti ada bantuan medis untuk kesembuhan Siti Aisyah.

"Harapannya kalau ada yang bisa menyembuhkan, saya minta bantuannya. Entah medis atau apapun agar, dia bisa bermain dengan teman teman sebayanya," jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *