Polisi Wanita (Polwan) yang jabatannya paling tinggi di kepolisian ialah Irjen Sri Handayani. Sekitar satu bulan lalu, Sri Handayani mendapatkan kenaikan pangkat dari Brigjen menjadi Irjen oleh Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis. Sebelum menjadi Polwan, Sri Handayani merupakan atlet nasional lari gawang dan sering memenangi kejuaraan.

Ketika sudah menjadi Polisi, Sri Handayani masih sering mengikuti berbagai turnamen olahraga baik di tingkat nasional maupun regional. Perempuan kelahiran Solo, 14 April 1962 ini sudah mengkoleksi ratusan piala. Uang hasil juara dikumpulkan untuk membeli rumah.

Karir Sri Handayani di Polri cukup prestisius. Dia adalah perempuan pertama yang menduduki posisi Kepala Sekolah Pembentukan Perwira (Kasetukpa) Lemdikpol Polri. Kian moncer, Sri Handayani dipercaya menjadi Wakapolda Kalbar dan sempat mengikuti seleksi calon pimpinan KPK namun gagal di tahap wawancara.

Sri Handayani mengaku sangat bahagia karena mendapat kepercayaan dari pimpinan Polri sebagai jenderal bintang dua. "Ya tentu ini berkat, anugerah." "Saya sangat senang tentunya menjadi bintang dua."

"Pastinya tanggung jawab lebih berat." Disinggung apakah dirinya siap jika ditunjuk Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis sebagai Kapolda? Sri Handayani mengaku siap dimana saja ditempatkan. Diketahui sebelumnya Kapolri pernah berujar bakal menjadikan Polwan berprestasi sebagai Kapolda.‎

"Semua tergantung pimpinan yang memberi amanah kepada saya." "Apabila memang diberi amanah seperti itu, ya saja jalani," imbuhnya. Dia juga tidak segan berbagi tips bagi Polwan agar bisa meniru jejaknya menjadi jenderal.

Sri Handayani mengajak para Polwan harus semangat, kerja luar biasa, tegas, disiplin dan tanggung jawab. Pastinya Polwan juga harus menghindari hal hal yang dapat meluncurkan citra dan martabat Polwan.‎ Sri Handayani meyakini kedepan bakal banyak Polwa berprestasi yang menempati posisi strategis di Polri.

"Saya percaya dan yakin pasti akan ada yang menyusul dapat bintang ‎berikutnya." "Kalau kinerja bagus, doa saja supaya dapat mengemban amanah." "Saya sendiri tidak menyangka bisa bintang dua."

"Tuhan memberikan berkat pada saya, dan pimpinan mempercayakan saya untuk menjadi bintang dua," imbuhnya. Disinggung soal dirinya yang tidak lolos capim KPK malah mendapat kenaikan pangkat bintang dua, Sri Handayani tersenyum simpul. Menurutnya ‎itu adalah rencana dari Tuhan.

"Capim KPK luar biasa, waktu itu saya mencoba sejauh mana kemampuan saya." "Namun faktanya hanya masuk 10 besar." "Pimpinan yang terpilih saat ini yang terbagus."

"Saya masih harus memperbaiki lagi," ungkapnya. Untuk diketahui langkah Sri Handayani mengikuti seleksi capim KPK sama dengan Basaria Panjaitan. Basaria Panjaitan lolos menjadi wakil pimpinan KPK.

Jabaran terakhirnya Sahlisospol Kapolri dan berpangkat Irjen. Sementara Sri Handayani tidak lolos. Baru baru ini Megawati Soekarnoputri merasa heran lantaran jarang ditemui organisasi perempuan.

Padahal, dia merupakan presiden perempuan pertama di Indonesia dan pelopor Undang Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). "Saya suka bertanya kenapa organisasi perempuan enggak pernah ketemu saya. Jadi dianggapnya apa saya ini laki laki ya?" ujar Megawati yang merupakan Presiden kelima RI saat membuka acara BPIP yang bertajuk Perempuan Hebat untuk Indonesia Maju di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Minggu (22/12/2019). Megawati merasa perempuan di Indonesia keliru dalam memandang politik.

Putri Presiden Sukarno itu mengatakan masih banyak perempuan yang menilai dunia politik tabu untuk dimasuki. Akibatnya hanya sedikit perempuan yang berkecimpung di dunia politik. Akhirnya, Megawati merasa banyak organisasi perempuan merasa enggan bertemu dirinya yang malang melintang di dunia politik.

Megawati menduga organisasi perempuan menganggap dirinya tak merepresentasikan sosok perempuan lantaran aktif di dunia politik. "Belum ada lho, organisasi perempuan menghubungi saya. Inilah kurangnya. Dipikir kalau sudah (masuk) politik tabu (untuk ditemui). Jadi untuk apa ketemu Bu Mega," lanjut dia. Dalam kesempatan yang sama, Megawati juga menyinggung soal belum adanya perempuan menjabat sebagai Panglima TNI.

"Apakah Panglima TNI tidak boleh dari kaum perempuan?Why not?Panglima TNI tidak boleh ya kaum perempuan? Presiden saja ya sudah (pernah). Artinya ya ke bawahnya ya boleh dong. Betul apa tidak?" tanya Megawati ke peserta acara. Para peserta yang mayoritas dihadiri kaum perempuan pun berteriak boleh, tanda dukungan terhadap pidato Megawati tersebut. "Ngomong betul saja kok lemes," ujar Megawati lantas disambut tawa para peserta acara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *