Wali Kota Bengkulu Desak Jokowi Beri Izin Lockdown: Tutup Semua Akses

Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menyampaikan surat permohonan izin untuk lockdown wilayahnya. Surat Helmi itu disampaikan kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Helmi ingin akses dari dan ke kotanya ditutup sehingga warga di dalam kota bisa beraktivitas dengan aman.

Surat dari Helmi itu tertanggal pada 26 Maret 2020 dengan nomor surat 360/68/BPBD/2020. Dengan perihal 'Permohonan Lockdown', surat itu ditujukan kepada Rohidin dan Jokowi. Dalam surat itu, Helmi menyertakan empat poin penting demi keamanan wilayahnya dari wabah virus corona.

Di antaranya permohonan ditutupnya akses dari dan ke Bengkulu melalui jalulr udara, darat, dan laut. Serta pengamanan ketat pengiriman kargo atau barang dari dan ke Bengkulu. Pengajuan lockdown itu sudah melalui kajian matang dan mempertimbangkan tingkat kedisiplinan warga.

Helmi merasa lockdown sangat diperlukan setelah adanya dua warga Bengkulu yang menyandang status pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia. "Selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat agar Gubernur bisa me lockdown, atau mengusulkan kepada presiden untuk me lockdown Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu," ujar Helmi. Helmi berharap bandara serta wilayah perbatasan dengan zona merah bisa segera ditutup.

Dengan demikian, Helmi menginginkan masyarakatnya bisa beraktivitas dengan tenang. "Bandaranya kita tutup, jalur jalur perbatasan dengan provinsi tetangga yang merah itu kita tutup," kata Helmi. "Sehingga masyarakat yang masih hijau ini bisa beraktivitas dan kita juga lebih tenang dan mengawasi secara maksimal," terangnya.

Kota Tegal, Jawa Tengah, sempat dikabarkan lockdown. Dikutip dari , Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung mengonfirmasi kepada Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi. Ganjar kemdudian menjelaskan bahwa yang terjadi di Tegal bukan lockdown namun isolasi terbatas.

"Saya sudah klarifikasi, sudah ada penjelasan soal itu. Intinya itu bukan lockdown, hanya isolasi terbatas agar masyarakat tidak bergerak bebas. Sampai tingkat itu saja," jelas Ganjar di Semarang, Jumat. Keputusan pemerintah setempat diambil setelah adanya seorang warga yang positif terinfeksi corona. Kabar tersebut membuat warga dilarang berkumpul atau berkerumun.

"Lalu diambil kebijakan menutup jalur yang masuk ke kota atau kampung dengan barier yang ada. Sebenarnya itu, jadi judulnya sebenarnya lebih tepat isolasi kampung," terang Ganjar. Bahkan warga Tegal pun masih diizinkan untuk keluar rumah, sehingga kebijakan yang diambil memang bukan lockdown. "Itu tidak lockdown, kalau iya maka masyarakat tidak boleh keluar rumah. Lha ini masih boleh kok," ujar Ganjar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *