Pada masa-masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, perlindungan terhadap kesehatan anak dari virus dan bakteri merupakan hal yang penting. Salah satunya adalah dengan pemberian makanan bergizi yang sebaiknya dimasak sendiri oleh orangtua.

“Pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, orangtua harus tetap memberikan nutrisi yang baik dengan belanja makanan yang mudah didapat, tetapi tetap bergizi serta dimasak sendiri,” tutur Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia Soedjatmiko dalam webinar parenting beberapa waktu lalu.

“Selalu memberikan kasih sayang dengan mendengarkan setiap obrolan anak, memberi contoh berbicara yang baik dan sopan ke anak, dan ciptakan rasa aman dan nyaman.”

Orangtua juga bisa mengajarkan perlindungan yang baik kepada anak sebagaimana protokol kesehatan yang berlaku.

“Melindungi anak dari berbagai virus/bakteri dengan memintanya untuk memakai masker, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan hindari makanan tidak sehat dan asap rokok/kendaraan/sampah,” terang Soedjatmiko.

Kebahagiaan di Rumah

Pengasuhan di masa New Normal menjadi isu penting, terutama bagi keluarga dengan anak usia dini. Pada usia tersebut merupakan kesempatan emas bagi anak mengeksplorasi potensi dirinya.

Sejak pandemi ini, ruang geraknya terbatas hanya bermain di rumah saja padahal anak usia dini juga termasuk kelompok rentan terdampak pandemi COVID-19, tidak hanya risiko fisik tertular virus juga berdampak secara psikologis.

Selain pemberian nutrisi dan perlindungan protokol kesehatan, Co-Founder Tanam Benih Foundation Willy B Winata menekankan untuk selalu menjaga suasana kebahagiaan di rumah.

“Kebahagiaan keluarga atau psikologis keluarga dalam pada masa pandemi COVID-19 pun turut menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Ini karena ketika orangtua dan anak selalu berada di rumah 24 jam serta peran orangtua, terutama Ibu beban kerjanya bertambah,” jelasnya.

“Harus mengurusi pekerjaan rumah sehari-hari ditambah membantu anak untuk belajar dirumah. Tidak jarang orangtua atau anak mengalami stres atau tingkat emosi yang tidak stabil. Padahal, kebahagiaan sangat diperlukan untuk tetap menjaga imunitas tubuh.”

Pengasuhan di masa New Normal menjadi isu penting, terutama bagi keluarga dengan anak usia dini. Pada usia tersebut merupakan kesempatan emas bagi anak mengeksplorasi potensi dirinya.

Sejak pandemi ini, ruang geraknya terbatas hanya bermain di rumah saja padahal anak usia dini juga termasuk kelompok rentan terdampak pandemi COVID-19, tidak hanya risiko fisik tertular virus juga berdampak secara psikologis.

Selain pemberian nutrisi dan perlindungan protokol kesehatan, Co-Founder Tanam Benih Foundation Willy B Winata menekankan untuk selalu menjaga suasana kebahagiaan di rumah.

“Kebahagiaan keluarga atau psikologis keluarga dalam pada masa pandemi COVID-19 pun turut menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Ini karena ketika orangtua dan anak selalu berada di rumah 24 jam serta peran orangtua, terutama Ibu beban kerjanya bertambah,” jelasnya.

“Harus mengurusi pekerjaan rumah sehari-hari ditambah membantu anak untuk belajar dirumah. Tidak jarang orangtua atau anak mengalami stres atau tingkat emosi yang tidak stabil. Padahal, kebahagiaan sangat diperlukan untuk tetap menjaga imunitas tubuh.”

Lebih Banyak Komentar Positif

Willy menyebut kebahagiaan berasal dari tiga hal. Pertama, hidup yang menyenangkan (pleasent life), yang berkaitan dengan perasaan dan emosi yang positif.

Kedua, hidup yang baik (good life), hidup yang baik dengan produktif dan menggali emosinya dengan berbagai kreativitas. Ketiga, hidup yang bermakna (meaningful life), yakni hidup atas apa yang kita lakukan bermanfaat terhadap orang lain.

Pada masa pandemi COVID-19, yang terganggu adalah hidup yang menyenangkan, berubah menjadi hidup yang kurang menyenangkan. Ini karena emosi orang tua dan anak bisa berubah menjadi bete, kesal dan stres karena menyesuaikan diri dengan banyak hal.

“Untuk membuat kebahagiaan anak menjadi hidup yang menyenangkan, kuncinya ya lebih banyak mendapatkan emosi yang positif dari pada negatif. Bangun hubungan yang erat bersama anak dengan lebih banyak mengungkapkan komentar positif dibanding negatif (5 komentar positif : 1 komentar negatif),” terang Willy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *