Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah pada masa pandemi Covid 19, cukup sukses. Ini terlihat dari beberapa tren perbaikan yang signifikan di beberapa sektor. Bahkan secara kuartalan perekonomian di Indonesia tercatat tumbuh 5,05% pada triwulan ketiga tahun ini.

“Kita sudah melewati kontraksi pertumbuhan pada posisi terdalam atau rock bottom , yaitu pada kuartal kedua lalu. Pertumbuhan perekonomian di triwulan ketiga mengalami perbaikan signifikan. Jika kita bisa mempertahankan laju pertumbuhan ini, maka kita berharap di triwulan keempat nanti, pertumbuhan ekonomi bisa berada pada laju positif atau kembali ekspansif,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto pada pemaparannya di Graha BNPB, Senin (9/11). Dari sisi lapangan usaha, semua sektor sudah tumbuh positif pada kuartal ketiga ini jika dibandingkan dengan kuartal kedua. Memang masih ada beberapa sektor yang masih tumbuh negatif jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Salah satu sektor yang tumbuh positif adalah Industri pengolahan. Kontribusi sektor ini tercatat paling besar pada pertumbuhan ekonomi (19,86), tumbuh 5,25% dari kuartal kedua yang terkontraksi minus 6,49%. Terbesar adalah sektor Transportasi dan pergudangan tumbuh 24,28% dibandingkan kuartal II ( 29,18).

Hal ini dipicu dengan kembalinya mobilitas masyarakat. Sementara jasa kesehatan dan kegiatan sosial makin membaik dengan tumbuh 13,73% dibandingkan kuartal kedua ( 4,14). Dari sisi pengeluaran, konsumsi dan investasi berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga tumbuh 4,7 persen jika dibandingkan dengan kuartal kedua yang terkontraksi minus 6,53%.

Sektor restoran dan hotel yang sempat turun tajam pada kuartal kedua ( 17,08%), kini juga sudah tumbuh 11,38%. Begitu pula dengan sektor transportasi dan komunikasi yang sempat turun di kuartal kedua ( 12,05%) kini di kuartal ketiga tumbuh 7,89 %. Perbaikan juga terjadi pada investasi yang tumbuh 8,45% dari kuartal kedua yang terkontraksi minus 9,71%. Ini adalah sebagian data positif yang sudah dicatatkan perekonomian nasional. Untuk menjaga agar sektor usaha agar tetap bergerak, Pemerintah terus menjalankan berbagai strategi melalui jaring pengaman sektor riil. Hal ini dilakukan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Misalnya penyaluran insentif untuk program UMKM, banpres produktif, penempatan dana ke perbankan dan lembaga pembiayaan, penjaminan kredit, dan subsidi bunga pinjaman. Pemerintah juga akan memperluas ketersediaan lapangan kerja melalui program pembangunan proyek padat karya. Selain itu juga menjamin ketersediaan kebutuhan pokok dan stabilitas harga pangan. “Agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, pemerintah telah mengoptimalkan belanja pemerintah baik Pusat maupun Daerah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk menjaga perekonomian dari sisi permintaan dan penawaran agar dapat menjaga daya beli masyarakat dan menstimulus sektor sektor usaha menggeliat kembali,” lanjut Airlangga.

Program PC PEN memperlihatkan progress yang baik. Per 2 November 2020, dana PC PEN terealisasi sebesar Rp 366,85 triliun atau 52,8% dari pagu sebesar Rp 695,2 triliun. Ini terbagi atas enam klaster program yakni program kesehatan, perlindungan sosial, sektoral K/L Pemda, dukungan UMKM, pembiayaan korporasi, dan insentif usaha. “Pemerintah juga menyiapkan strategi percepatan realisasi anggaran PEN dengan terus melakukan monitoring dan evaluasi yang dilakukan setiap minggu, re alokasi anggaran antar klaster termasuk melakukan perluasan program yang sudah berjalan dengan baik, dan menyusun proyeksi realisasi program terkait 4 klaster PEN,” tutup Airlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *