Kondisi yang serba tak menentu pada pandemi COVID-19 saat ini menyebabkan kecemasan rentan muncul. Untuk mencegah masalah lebih jauh akibat kecemasan ini, perlu dilakukan sejumlah hal.

Praktisi mindfulness dan emotional healing Adjie Santosoputro mengatakan bahwa ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk mengatasi kecemasan yang dialaminya.

Yang pertama harus dipahami pertama kali adalah kecemasan muncul dari dalam diri karena keinginan untuk memastikan hal yang tidak pasti.

“Saya juga kadang protes, masa kita sebagai manusia tidak boleh memastikan, tapi saya sebagai manusia seringkali tidak sadar diri. Ego kita besar. Padahal ada hal-hal yang di luar kendali kita,” kata Adjie dalam sebuah seminar daring beberapa waktu lalu.

Sehingga, Adjie mengatakan bahwa memastikan hal yang tidak pasti boleh-boleh saja. Namun, orang juga harus sadar bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan.

Menemani Kecemasan

Adjie mengatakan, agar kecemasan tak terjadi secara berlebihan, yang harus dilakukan selanjutnya adalah dengan “menemani kecemasan” itu sendiri.

“Maksudnya, kita tidak perlu melarikan diri dari rasa cemas. Kita juga tidak perlu melawan cemas. Yang perlu kita lakukan adalah menemani rasa cemas,” ujarnya.

Menurut Adjie, penyangkalan terkadang malah membuat seseorang merasa lebih cemas. Bahkan tak jarang mengalihkan perasaan tersebut malah berujung dengan aktivitas-aktivitas yang tidak sehat.

“Kita tahu bahwa melakukan ini itu tidaklah sehat, tapi tetap kita lakukan karena sebenarnya itu adalah persoalan batin karena kita terus lari dari rasa cemas itu,” terang Adjie.

Menyadari Napas

Setelah seseorang bisa hidup dengan rasa cemas yang dialaminya, yang perlu dilakukan kemudian adalah “menyadari napas.”

“Ketika menarik napas disadari, embuskan napas sadari bahwa saya sedang mengembuskan napas,” kata Adjie.

Dia mengatakan, berlatih menyadari napas sama seperti mengalihkan perhatian kita dari yang sebelumnya terus menerus terpusat pada pikiran menuju napas. Menurutnya, ini akan lebih mengurangi perasaan cemas.

“Jadi latihan sadar napas ini atau mindful breathing, bukan latihan mengendalikan napas. Kita hanya menyadari napas,” ujarnya.

“Pada saat menyadari napas, saya garansi pikiran kita akan ngelayap kesana kemarin. Berpikir tentang masa lalu, masa depan, kenangan, penuh drama, penuh fantasi. Setiap kali seperti itu, ingat, sadari pikiran itu lalu bersikaplah ramah dan menerima,” sambungnya.

Belajar dari Air

Yang terakhir, bersikaplah lentur dan mengalir layaknya air.

“Kita cemas karena kita ini seringkali kaku menghadapi perubahan. Kita ingin kondisi harus seperti ini, pokoknya, suka tidak suka harus begini, kan kaku banget,” kata Adjie.

Menurutnya, kekakuan ini yang membuat seseorang cemas. “Belajarlah dari air,” ujarnya.

“Kalau melihat dari karakter air itu kan dia pas alirannya lancar, lancar. Kalau pas bertemu dengan batu yang berliuk-liuk, dia mengikuti mencari celah. Pas waktunya berhenti ya dia berhenti, ikhlas pasrah, kalau ada jalan, jalan lagi,” tambahnya.

Selain itu, sangat penting untuk memenuhi kebutuhan air minum. Sertai dengan istirahat yang cukup agar kecemasan tidak muncul secara berlebihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *